Daftar Isi
"Tahun baru Hijriah bukan sekadar pergantian angka, tetapi kesempatan untuk memperbarui iman, memperbaiki diri, dan menata kembali arah perjalanan hidup menuju ridha Allah."
Setiap kali bulan Muharram datang, umat Islam memasuki lembaran baru dalam kalender Hijriah. Berbeda dengan perayaan tahun baru yang sering identik dengan kemeriahan dan pesta, tahun baru Islam mengajak kita untuk berhenti sejenak, merenung, dan mengevaluasi perjalanan hidup yang telah dilalui.
Muharram bukan hanya penanda pergantian tahun. Ia adalah pengingat akan peristiwa besar yang mengubah arah sejarah umat Islam: hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah menuju Madinah. Dari peristiwa itulah lahir masyarakat Islam yang kokoh, berlandaskan iman, ilmu, persaudaraan, dan pengorbanan.
Karena itulah, memaknai 1 Muharram sejatinya berarti memaknai kembali hakikat hijrah dalam kehidupan kita.
Mengapa Kalender Islam Dimulai dari Hijrah?
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, kaum Muslimin memerlukan sistem penanggalan yang resmi untuk urusan administrasi negara. Para sahabat kemudian bermusyawarah menentukan peristiwa apa yang layak dijadikan awal kalender Islam.
Ada yang mengusulkan tahun kelahiran Nabi ﷺ, ada yang mengusulkan awal kenabian, dan ada pula yang mengusulkan tahun wafat beliau. Namun akhirnya para sahabat sepakat menjadikan peristiwa hijrah sebagai awal kalender Islam.
Keputusan tersebut mengandung pelajaran yang sangat dalam. Islam tidak membangun identitasnya berdasarkan kelahiran seseorang ataupun peristiwa duka, melainkan berdasarkan perjuangan, pengorbanan, dan perubahan menuju kebaikan.
Hijrah menjadi simbol perpindahan dari kelemahan menuju kekuatan, dari tekanan menuju kebebasan beribadah, dan dari keterpurukan menuju kebangkitan peradaban.
Muharram: Bulan yang Dimuliakan Allah
Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah Ta'ala.
Allah berfirman:
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhulmahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram." (QS. At-Taubah: 36)
Rasulullah ﷺ bahkan menyebut Muharram sebagai Syahrullah (bulan Allah), sebuah penyandaran yang menunjukkan kemuliaannya.
Beliau bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
"Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram." (HR. Muslim)
Datangnya Muharram menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk membuka lembaran amal yang baru, memperbanyak taubat, serta meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah Ta'ala.
Muhasabah: Menghitung Diri Sebelum Dihitung
Salah satu amalan hati yang paling penting di awal tahun adalah muhasabah.
Allah Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)." (QS. Al-Hasyr: 18)
Muhasabah berarti mengoreksi diri dengan jujur. Bukan sekadar menghitung berapa banyak pekerjaan yang telah diselesaikan, tetapi juga menilai sejauh mana kita telah mendekat kepada Allah.
Sudahkah shalat kita lebih khusyuk?
Sudahkah Al-Qur'an menjadi teman harian kita?
Sudahkah lisan kita lebih terjaga dari ghibah dan fitnah?
Sudahkah kita menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang seharusnya mengisi renungan kita saat memasuki tahun baru Hijriah.
Hijrah yang Sesungguhnya
Banyak orang menganggap hijrah hanya sebatas perubahan penampilan atau lingkungan. Padahal Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa hakikat hijrah jauh lebih dalam daripada itu.
Beliau bersabda:
الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hijrah adalah perubahan menuju ketaatan.
Hijrah adalah meninggalkan dosa yang selama ini sulit ditinggalkan.
Hijrah adalah berpindah dari kelalaian menuju kesadaran.
Hijrah adalah perjalanan hati dari cinta dunia yang berlebihan menuju kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Karena itu, setiap Muslim memiliki kesempatan untuk berhijrah, berapa pun usianya dan apa pun masa lalunya.
Istiqamah Lebih Penting daripada Semangat Sesaat
Awal tahun sering melahirkan banyak tekad dan resolusi. Namun tidak sedikit yang menguap setelah beberapa minggu.
Islam mengajarkan bahwa yang paling penting bukanlah semangat sesaat, melainkan keberlanjutan amal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, jangan hanya membuat target besar. Mulailah dari kebiasaan kecil yang bisa dijaga sepanjang tahun:
-
Membaca Al-Qur'an setiap hari.
-
Menjaga shalat berjamaah.
-
Bersedekah secara rutin.
-
Menghadiri majelis ilmu.
-
Memperbanyak dzikir dan doa.
Kebaikan yang terus-menerus akan melahirkan perubahan yang besar.
Membangun Persaudaraan dan Kepedulian Sosial
Hijrah Rasulullah ﷺ tidak hanya melahirkan perubahan pribadi, tetapi juga membangun masyarakat yang kuat.
Di Madinah, Rasulullah ﷺ mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar. Mereka saling membantu, saling menguatkan, dan mendahulukan kepentingan saudaranya daripada dirinya sendiri.
Allah Ta'ala memuji mereka:
وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ
"Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka." (QS. Al-Hasyr: 9)
Semangat hijrah seharusnya melahirkan kepedulian sosial, mempererat ukhuwah Islamiyah, memperbanyak sedekah, serta meningkatkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Menyambut Tahun Baru dengan Harapan
Setiap pergantian tahun adalah tanda bahwa usia berkurang dan kesempatan beramal semakin sedikit. Namun bagi seorang mukmin, hal itu bukan alasan untuk pesimis.
Sebaliknya, 1 Muharram adalah momentum untuk menumbuhkan harapan baru.
Mungkin tahun ini kita ingin memperbaiki hubungan dengan Allah.
Mungkin tahun ini kita ingin lebih dekat dengan Al-Qur'an.
Mungkin tahun ini kita ingin lebih banyak belajar agama.
Atau mungkin tahun ini kita mulai merencanakan perjalanan menuju Baitullah untuk menunaikan umrah dan haji.
Apa pun cita-cita kebaikan itu, mulailah dengan niat yang tulus dan langkah yang nyata. Sebab perubahan besar selalu berawal dari keputusan kecil yang dilakukan dengan istiqamah.
Penutup
1 Muharram bukan sekadar awal tahun baru Islam. Ia adalah undangan untuk berhijrah, memperbaiki diri, dan memperbarui komitmen kepada Allah Ta'ala.
Mari jadikan tahun ini lebih baik daripada tahun sebelumnya. Perbanyak muhasabah, tingkatkan ibadah, perkuat ukhuwah, dan terus melangkah menuju kebaikan.
Semoga Allah Ta'ala menjadikan tahun baru Hijriah ini sebagai awal keberkahan, pembuka pintu rahmat, serta sarana bagi kita untuk semakin dekat kepada-Nya.
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa berhijrah menuju ketaatan dan istiqamah di atas jalan-Nya.
Apa target ibadah terbesar yang ingin Anda capai pada tahun ini?